Aku terdiam sepi, seperti gurun yang merindukan datangnya sang hujan.
Seperti daun yang merindukan datangnya butiran embun di pagi hari.
Aku terdiam sepi.
Ku coba berjalan, namun langkahku tak memiliki arah untuk berpijak.
Ada sesuatu yang hampa disini, aku tak tau.
Kuikuti arah angin berhembus, namun logika ku melarang, apakah kau hanya
akan mengikuti angin tanpa punya tujuan? Apakah kau hanya akan menjadi
sampah yang terbawa arus sungai yang deras tanpa bisa berbuat apa-apa?.
Tapi aku terus berjalan, persetan dengan logika pikirku, aku memang telah menjadi sampah bukan?
Aku kembali terdiam, disini. Di tempat dimana hiruk pikuk kota
teredam sunyi. Aku tersadar, tempat ini tak asing bagiku, dulu aku
pernah merasakan, pernah memiliki tujuan hidup, disini. Ya, aku dulu
pernah bahagia, aku dulu pernah punya sejuta mimpi. Dulu hidupku serasa
sempurna, hidupku dulu secerah mentari pagi, bersinar, penuh harapan
bahwa hari ini kan berjalan baik. Dulu, ya, itu dulu.
Kini pikiranku mulai menampilkan gambaran keindahan hidupku dulu,
semuanya berputar di kepalaku, hingga menampilkan secuat wajah, ya aku
mengenalnya, aku mulai sadar bahwa dialah alasan kebahagiaan di masa
laluku, dialah sang mentari pagi, bahkan lebih, ya dia bidadari hatiku.
Air mataku meleleh, aku tak tau, tiba-tiba aku ingin menangis, hatiku
bisa merasakan lagi. Dan rasa sakit itu yang membangkitkannya.
Kakiku goyah, aku tak bisa menahannya, aku terjatuh. Airmataku masih
mengalir, aku menatap sekeliling, pohon itu, bangku di taman, kolam ikan
yang airnya jernih. Aku kembali teringat kenangan kita. Dulu kita
sering kesini, bermain di dahan pohon tua yang masih kokoh ini, kita
berbaring di atas rumput akasia yang hijau dan lembut ini sambil
memandangi awan. Aku masih ingat kata-katamu.
“Sayang, kalau kita menikah nanti, kita tak perlu punya rumah yang
mewah dan besar, karena walaupun kita tinggal di rumah yang beralaskan
tanah dan beratapkan langit pun, asalkan masih bisa melihat senyummu aku
sudah bahagia sekali”. Aku pun hanya tersenyum.
Airmataku makin mengalir, senyumu, gelak tawamu, hariku seakan tak
pernah bosan jika kuhabiskan hanya untuk melihatnya. Aku ingin lagi
merasakan itu, aku ingin menikmati tiap detik waktu yang kumiliki untuk
bersamamu.
Aku sadar, dulu aku tak pernah membahagiakanmu, aku terlalu cuek dan tak menanggapimu.
Di pohon ini kamu pernah menuliskan namamu dan namaku disini. Kau
menanyakan pendapatku, namun aku hanya bilang kalau kau berlebihan.
Disini, kamu sering memetik bunga yang tumbuh di sekitar kolam,
kemudian kamu selipkan di telingaku, aku jengkel dan selalu membuangnya,
kau pun hanya tertawa renyah sambil mencubit hidungku dan berlari. Tapi
hari itu berbeda, kamu menyelipkan lagi bunga itu dan aku pun kembali
membuangnya, tapi kamu malah mengambilnya dan memeluknya sambil
menangis, aku tak tau kau kenapa, dan aku pun terlalu cuek untuk
menanyakannya, tapi kini aku sadar, bahwa bunga itu adalah bunga
terakhir yang kamu selipkan di telingaku.
Aku masih menangis, aku berjalan ke pohon itu, aku mengambil batu dan
mengukir pohon itu dengan nama kita. maafkan aku sayang, kini ku sadar
bahwa aku merindukan hadirmu disini, aku membutuhkan keceriaanmu untuk
melengkapi hariku yang membosankan. Sayang maafkan lah segala
kesalahanku padamu, semoga kau tenang di alam sana dan menjadi bidadari
surga, sebagaimana kamu selalu menjadi bidadari hatiku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar